Wat Saket Ratcha Wora Maha Wihan
(Thai: วัดสระเกศราชวรมหาวิหาร,
atau yang biasa disingkat dengan Wat Saket) merupakan Kuil Buddha yang ada di
Bangkok. Temple ini dibangun pada era Ayutthaya dengan nama Wat Sakae. Ketika
pemerintahan Raja Rama 1 dan Bangkok menjadi pusat pemerintahan (ibu kota),
Temple ini direnovasi dan diganti nama menjadi Wat Saket.
Di kuil ini juga terdapat sebuah
gong besar. Warga percaya, jika memukul gong tersebut sebanyak tiga kali lalu
memohon suatu permohonan, konon bisa terkabul. Selain itu,jangan lupa untuk
membunyikan semua lonceng yang ada sepanjang jalan menuju kuil sebelum kalian
sembahyang ya :)
Pura Tirta Empul memang tidak pernah
kehilangan pesonanya. Terbukti dengan banyaknya wisatawan baik domestik maupun
mancanegara setiap hari berbondong-bondong datang untuk melihat keindahan pura.
Bahkan, mereka juga ikut melukat bersama umat Hindu di Bali. Banyak dari mereka
yang antusias untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Melukat merupakan kegiatan pebersihan
pikiran dan jiwa dalam diri manusia. Dengan melukat, dipercaya akan memberi
pengaruh positif bagi yang melaksanakannya. Di Bali, umat Hindu mayoritas rutin
melakukan kegiatan melukat. Biasanya, ketika pertama kali melukat di suatu
pura, pemedek disarankan untuk menghaturkan pejati sebagai tanda keseriusan
untuk melaksanakan pembersihan diri.
Untuk kalian yang senang melukat, Pura
Tirta Empul merupakan pura yang tidak boleh dilewatkan. Pura yang terkenal
dengan mata air sucinya ini terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring,
Kabupaten Gianyar. Pengunjung pura akan semakin ramai ketika hari-hari tertentu
seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon dan hari suci lainnya. Selain terkenal
dengan mata air sucinya, Pura ini juga berdampingan dengan Istana Presiden yang
dibangun setelah kemerdekaan Indonesia.
Pura Goa Lawah merupakan Pura
yang terkenal dengan sebuah Goa yang di dalam pura yang dipenuhi dengan
Kelelawar. (Lawah artinya kelelawar). Pura ini sangat sejuk dan menenangkan.
Banyaknya pohon yang rindang dan lokasinya yang dekat dengan pantai membuat
pura ini semakin mempesona. Tak heran, banyak wisatawan domestik maupun
mancanegara tidak lupa untuk menambahkan Goa Lawah ke dalam list perjalanan
mereka.
Pura yang terletak di Desa
Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung,Bali ini sangat erat
hubungannya dengan Pura Besakih. Ketika umat Hindu selesai melaksanakan upacara
Ngaben, maka mereka akan melaksanakan persembahyangan ke Pura Goa Lawah terlebih
dahulu. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan di Pura Besakih.
Pura Goa Gajah terletak di Desa Bedulu,
kecamatan Blahbatuh, kabupaten Gianyar. Pura Goa Gajah merupakan salah satu
situs warisan dunia yang dicatat oleh The United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tanggal 19 Oktober 1995
dalam bidang kebudayaan. Asal-usul nama Goa Gajah sendiri dijelaskan di dalam
lontar Negarakertagama yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Nama
tersebut diperoleh dari kata “ Lwa Gajah”. Jika diartikan dalam bahasa
Indonesia, maka kata “ Lwa “ berarti sungai dan Gajah berarti wihara, tempat
pemujaan para Bhiksu umat beragama Buddha. Sehingga, kata “ Lwa Gajah” dapat
diartikan sebagai tempat pertapaan para Bhiksu umat Buddha yang letaknya berada
di tepi sungai.
Di dalam Pura ini, terdapat gua buatan
yang berfungsi sebagai tempat sembahyang. Uniknya, permukaan goa tersebut
dipenuhi dengan ukiran karang boma. Jalan di dalam Goa membentuk huruf T,
dengan tinggi dan lebar sekitar 2 meter. Goa tersebut diperkirakan merupakan
tempat bertapa para biksu dari umat Buddha, di ujung goa terdapat sebuah arca
Ganesha dan 3 buah lingga. Keberadaan Goa gajah ini menandakan sudah terjadi
sinkretisme agama Hindu dan Buddha pada masa kerajaan Bali kuno. Hal ini
menunjukkan bahwa Umat Hindu dan Umat Buddha saat itu hidup rukun dan
berdampingan.
Di dekat Goa tersebut, terdapat tujuh
pancuran suci. Konon, ketujuh pancuran tersebut merupakan lambang dari tujuh
sungai penting yang sangat dihormati di tanah India. Jika anda menyusuri lebih
jauh ke “Buddha Temple”, anda akan melihat banyak bongkahan patung-patung
Buddha yang sudah rusak di dekat sungai. Rusaknya patung-patung Buddha tersebut
diakibatkan oleh bencana alam yaitu gempa bumi. Semoga saja Pura ini cepat
direnovasi dan Patung Buddha di “Buddha Temple” segera dibangun kembali agar
lebih menjalin keharmonisan antara Umat Hindu dan Buddha di Bali. Selain itu,
pastinya akan menambah daya tarik dari para wisatawan lokal maupun
mancanegara.
Pura Candi Narmada Tanah Kilap
sangat terkenal di Kota Denpasar. Pura ini merupakan stana dari Ida Bhatari
Ratu Niang Sakti. Pemedek di di luar kota Denpasar biasanya kurang akrab dengan
Nama “Ratu Niang Sakti” apabila ditanya. Konon, pura ini diberi nama Pura Tanah
Kilap karena ketika Dang Hyang Nirartha moksa di Pura Uluwatu, ada kilatan yang
dahsyat di lokasi tempat pura ini dibangun.
Sejarah pura ini tertulis di
lontar yang ditemukan di Griya Gede Gunung Beau Muncan, Karangasem. Dulunya,
Pura ini hanya segundukan batu tanpa nama. Sebelum pura ini semegah dan seindah
sekarang, konon dulunya nelayan yang mencari nafkah di sekitar lokasi pura
pernah tidak mendapat ikan satupun selama tiga hari berturut-turut.
Akhirnya, nelayan yang bernama
Pan Sateng mesesangi (membuat janji) mengadakan Pakelem Suku Pat Metanduk Mas
memohon agar daerah di sana agar ada ikan yang bisa ditangkap sebagai sumber
mata pencaharian. Ternyata benar. Doa dari Pan Sateng terkabul. Setelah upacara
dilangsungkan, berbagai jenis ikan mulai bermunculan. Bahkan penyu-penyu juga
ikut bermunculan. Merasa bersyukur atas kejadian tersebut, dibuatlah pelinggih
di sana. Hari demi hari, tangkapan ikan pun semakin banyak. Suatu hari Pan
Sateng mendapat pawisik kalau yang melinggih di sana adalah Betari Ratu Niang
Lingsir atau Ratu Niang Sakti. Disebut Ratu Niang Lingsir, karena wujud beliau
yang menyerupai seorang nenek-nenek.
Pada tahun 1958 ada seorang ibu
dari Kuta mendapat pawisik untuk membangun sanggar agung di kawasan pelinggih
Ida Betari Ratu Niang Sakti. Setelah Sanggar Agung tersebut dibangun, pemedek
semakin ramai berdatangan. Seiring dengan perkembangan Zaman, pembangunan pura
dan penambahan-penambahan pelinggih lain terus dilakukan.
Pura Candi Narmada Tanah Kilap
merupakan pura yang hampir tidak pernah sepi pengunjung hingga saat ini. Setiap
harinya, ada saja yang sembahyang di pura ini. Hal ini karena pura ini
dipercaya dapat mempermudah rejeki dan jodoh para pemedeknya. Pada hari raya
seperti purnama, tilem atau kajeng kliwon, dan hari-hari suci lainnya, pemedek
akan membludak bahkan kadang hingga mengantri untuk sembahyang di Pura ini.
Pemedek yang paling banyak datang khususnya Para muda-mudi. Banyak dari mereka
akan membawa lekesan, yang konon dipercaya sebagai sesajen kesukaan beliau.
Vihara Amurva
Bhumi terletak di Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali tepatnya di
bawah jembatan tua. Vihara ini sangat indah dan terawat. Kawasan di sekitar
Vihara juga sangat sejuk dan menenangkan. Hal ini mungkin disebabkan karena
suara gemericik air dari aliran sungai Petanu dan banyaknya pohon yang rindang
di sekitar Vihara. Di pepohonan sekitar Vihara juga tinggal banyak monyet. Hal
tersebut membuat Vihara ini semakin menarik.
Vihara ini
terletak berdampingan dengan sebuah Pura kecil yang terletak di dekat sungai.
Ketika umat Hindu sembahyang ke pura tersebut, banyak dari mereka menyempatkan
diri untuk terlebih dahulu sembahyang di Vihara. Bahkan, pada hari raya besar
umat Hindu seperti Galungan, banyak dari umat Hindu juga sembahyang di Vihara
Amurva Bhumi.
Wat Pho (Wat
artinya kuil) merupakan kuil yang tidak boleh kalian lewatkan ketika kalian
Jalan-jalan di Bangkok, Thailand. Kuil ini terletak berdekatan dengan Grand
Palace dan Wat Arun. Kalian hanya butuh Jalan kaki sekitar 10 menit dari Grand
Palace menuju kuil ini. Harga tiket untuk masuk ke kuil ini yaitu 100 Baht atau
sekitar Rp. 47.000 bila dikonversi ke rupiah.
Kuil yang didirikan oleh Raja Rama I ini memiliki nama lengkap Wat Phra
Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan (bahasa Thai: วัดพระเชตุพนวิมลมังคลารามราชวรมหาวิหาร). Candi ini mempunyai nama resmi Wat Phra Chetuphon
Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn (Thai: วัดพระเชตุพนวิมลมังคลารามราชวรมหาวิหาร). Kuil ini merupakan salah satu kuil tertua di Bangkok dan sudah
ada sebelum Bangkok menjadi ibukota dari Negri Gajah Putih tersebut.
Kuil ini sangat terawat dan megah. Arsitekturnya sangat detail dan indah.
Tempatnya juga sejuk. Banyak hal yang dapat dipelajari ketika memasuki kuil
ini. Ketika baru masuk kuil, kalian bisa melihat denah 3D dari kuil ini. Ada
juga layar yang menunjukkan beberapa teknik Pijat Thai Tradisional. Secara,
kuil ini dikenal sebagai tempat lahirnya Pijat Thai Tradisional.
Hal yang paling menarik pengunjung di sini sebenarnya adalah Reclining Buddha
atau Patung Buddha raksasa yang sedang berbaring. Patung Reclining Buddha
memiliki tinggi 15 meter dan panjang 45 meter. Selain itu, Patung Reclining Buddha
juga dilapisi emas 18 karat dengan rincian 336 lapisan. Telapak kaki Buddha
memiliki tinggi 3 m dengan panjang 4.5 m, dan dilapisi dengan besi yang
berkilauan.
Di bagian belakang Patung Reclining Buddha, terdapat 108 mangkuk perunggu yang
mewakilkan 108 karakter mulia Buddha. Dengan menjatuhkan koin pada setiap
mangkuk, Pengunjung diyakini akan membawa keberuntungan bagi yang melakukannya.
Selain itu, ini juga menjadi salah satu cara bagi kita untuk membantu para
biarawan dalam menjaga dan mempertahankan kuil Wat Pho.
Wat Arun akan sangat indah
dipandang ketika menjelang malam hari. Hal inilah yang menyebabkan Wat Arun
sering dijuluki dengan nama Temple of Down. Untuk pergi ke Wat Arun, Anda bisa
menyeberangi sungai Cao Phraya menggunakan kapal yang ada di dermaga yang lokasinya
tidak jauh dari Wat Pho. Untuk menyeberangi sungai Cao Phraya anda hanya perlu
merogoh kocek sebesar 4 Baht atau kurang lebih Rp. 2000. Tiket masuk untuk
mengunjungi Wat Arun yaitu sebesar 50 Baht atau kurang lebih Rp. 24.000. Wat Arun (bahasa Thai: วัดอรุณ)
adalah candi Buddha (wat). Nama Wat Arun diberikan atas ide dari Raja Taksin
yang memerintah Thailand pada tahun 1768. Nama panjang dari candi ini adalah
Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara (วัดอรุณราชวรารามราชวรมหาวิหาร). Wat Arun Rajwararam disebut juga Candi Fajar. Nama tersebut
diambil dari nama Dewa Fajar, Aruna. Wat Arun yaitu terletak di distrik Bangkok
Yai di Bangkok, Thailand, tepatnya di barat hulu sungai Chao Phraya. Wat Arun
juga dianggap sebagai salah satu situs yang paling terkenal di Thailand.
Pada bagian puncak tertinggi candi, terdapat mahkota kerajaan
Thailand yang diletakkan oleh Raja Rama III. Raja Rama III sebenarnya merupakan
adik dari Raja Rama IV. Hanya saja beliau lebih dianggap mampu menjaga dan
mensejahterakan kerajaan Thailand pada masa itu. Hal ini membuat Raja Rama II
(Ayah dari Raja Rama III dan Raja Rama IV) mengangkat Raja Rama III sebagai
Raja. Sebagai adik yang berbakti kepada kakaknya, Raja Rama III berjanji akan
mengembalikan tahta kepada kakaknya setelah beliau mampu menyelesaikan
tugasnya. Setelah tugas dari beliau selesai, Beliau menyerahkan tahta kepada
Raja Rama IV dan meletakkan mahkota di puncak Wat Arun sebagai simbol bahwa
beliau telah menepati janji yang dibuat.
Pura sebatu terletak di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang,
Gianyar, Bali. Pura ini memiliki anak tangga yang cukup banyak. Hal ini
terkadang membuat pemedek agak kelelahan. Namun, hal ini sepadan dengan apa
yang di peroleh yaitu ketenangan batin. Udara yang sangat segar dan pepohonan
hijau yang mengelilingi pura membuat pikiran seketika tenang.
Pura Sebatu merupakan Pura yang terkenal dengan sumber mata
air suci yang dipercayai dapat menyembuhkan penyakit medis maupun nonmedis. Hal
ini membuat banyak sekali warga Bali yang datang ke pura ini untuk melukat.
Penduduk percaya, jika air di tempat melukat menjadi keruh, itu merupakan
pertanda bahwa pemedek/penangkil yang melukat memiliki penyakit gangguan
nonmedis. Selain itu, apabila gangguan nonmedisnya parah, biasanya
pemedek/penangkil yang melukat akan berteriak kesakitan sebagai proses dari
penyembuhan
Pura Uluwatu adalah salah satu dari Pura Sad Kahyangan di Bali.
Pura ini terletak di atas tebing yang curam dengan pemandangan laut biru yang
menyejukkan mata. Keindahan pura ini pasti memikat siapa saja yang
mengunjunginya, termasuk saya. Tak heran, setiap harinya pengunjung dari
mancanegara maupun lokal tak pernah henti berdatangan. Tujuan merekapun
beragam. ada yang datang untuk sembahyang, adapula yang datang untuk sekedar
menikmati pemandangan. Selain pemandangannya yang indah, kebersihan pura ini pun
sangat terjaga. Para wisatawan lokal maupun mancanegara juga sangat menghargai
pura ini. Tidak ada yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan. Di Pura
ini juga ada banyak monyet. Untuk yang takut dengan monyet, saya sarankan untuk
ke sini sekitar pukul 4 sore. Ketika menjelang sore, Monyet-monyet sudah tidak
terlalu berkeliaran. Hmmm..Mungkin mereka sedang istirahat?
Pura Luhur Tambawaras dipercaya
warga sebagai tempat suci untuk penyembuhan penyakit medis maupun nonmedis.
Pura ini dipenuhi dengan pepohonan yang rindang yang sangat menyejukkan. Tapi,
anda harus hati-hati dalam perjalanan, karena jalan menuju pura ini agak
sempit. Sebelum anda sembahyang ke pura Luhur Tambawaras, anda harus
membersihkan diri dan sembahyang terlebih dahulu di Pura Beji. Di sana, ada
beberapa pemangku yang akan membantu anda untuk melaksanakan persembahyangan.
Anda akan diminta untuk melukat ke pancoran yang jumlahnya tujuh buah (Sapta
Gangga). Selanjutnya anda akan dilukat oleh pemangku dengan air kelapa gading
yang sudah harus kalian persiapkan sebelumnya. Lalu, anda bisa menghaturkan
canang ke sesuunannya untuk memohon penyembuhan. Proses penyembuhan akan
dibantu oleh pemangku di sana. Setelah selesai melukat, lanjut anda bisa
berganti pakaian.
Di dekat beji sudah disediakan
tempat ganti. Setelah anda selesai ganti baju, Anda baru boleh melakukan
persembahyangan di pura Luhur Tambawaras. Jangan lupa untuk membawa pejati dan
bungkak gadang lalu sembahyang. Setelah selesai sembahyang, anda akan diminta
untuk meminum bungkak gadang di tempat yang sudah disediakan. Namun, sebelum
minum bungkaknya, anda harus berdoa terlebih dahulu. Memohon penyembuhan dengan
tulus. Pemangku di sana mengatakan bahwa minum bungkak dianjurkan di tempat
yang sudah disediakan agar mengantisipasi bagi pemedek yang mungkin saja bisa
muntah karena meminum air bungkak gadang yang sudah berisi tamba (obat)
tersebut.